Hari ini saya mengalami kejadian memalukan, setidaknya memalukan bagi diriku sendiri.
Untuk kebugaran, saya mengagendakan Minggu pagi untuk berenang. Tidak sekeren yang dibayangkan sih, masih belajar, jadi cukup mangkal di pinggiran dan sekali-kali mencoba untuk berenang beberapa meter. Tidak terlalu memalukan karena memang yang betul-betul bisa berenang dan melakukan meraton bolak-balik dari ujung ke ujung hanya beberapa orang.
Dari sekian sedikit yang terlihat mahir berenang, sebagian besar di antaranya adalah warga negara keturunan Tionghoa yang sudah cukup berumur. Begitulah, bangsa sendiri yang mengaku negara maritim kalah dengan orang dari gurun Gobi sana
Seperti di Glodog, di antara mereka bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Mandarin. Pembicaraan mereka terlihat serius, terlalu serius untuk sebuah cengkerama di dalam kolam renang, mungkin saja mereka membicarakan bisnis atau setidaknya rencana besar. Para pejabat pribumi biasanya membicarakan kesepakatan bisnis atau hal-hal besar lainnya di sebuah kafe atau ruang karaoke, paradoks memang. Kami-kami, cukuplah membicarakan bahasan yang ringan dan menyenangkan seperti tema-tema yang sering diusung acara infotainmen – information-entertainment; informasi yang sifatnya menghibur.
Beberapa pengunjung wanita juga tampak. Biasanya yang pandai berenang datang sendiri dan tentu saja untuk berenang. Saya yang masih level novice ini minder untuk mendekati. Pengunjung wanita lain adalah korban bujukan dari pacar mereka sendiri. Betapa bodohnya pasangan mereka, bukannya melindungi hak-hak dan kehormatan kaum perempuan, malah membawa mereka untuk dijadikan tontonan bagi puluhan laki-laki pengunjung kolam renang lainnya – FYI: di Jambi juga ada kolam renang yang khusus wanita kok. Kalo yang begini, saya takut mendekati karena selalu dekat dengan pacar mereka. Beberapa pengunjung wanita adalah ibu-ibu yang mengajari anak balita mereka untuk berenang. Nah, yang begini cukup menarik perhatian karena bukannya saya suka ibu-ibu ataupun anak kecil tetapi karena ada teknik-teknik berenang yang bisa diperoleh secara gratis.
Kejadian yang saya maksud tidak terjadi di kolam renang ataupun berhubungan dengan masalah renang.
Di antara beberapa kolam renang di Kota Jambi, kolam renang milik Pemprov Jambi ini layak dipertimbangkan. Tentu saja ada kelebihan dan kekurangannya. Tiket masuknya sangatlah murah. Rp4.100,00 untuk kolam prestasi (kolam besar berukuran 100m x 50m bisa untuk tempat perlombaan) dan Rp7.100,00 untuk kolam rekreasi (waterboom gitulah, cuman saranannya masih minim, saya belum pernah masuk). Rp100,00 adalah asuransi. Bandingkan dengan kolam renang yang lain dengan tarif 10 – 20 ribuan. Untuk sekedar berendam saja tidak perlu tempat yang elit-elit amat, toh dulu saya biasa mandi di kali. Untuk kualitas air belum diteliti lebih lanjut. Ana rega ana rupa (dengan huruf a dibaca seperti huruf o pada kata “orang”), ada harga ada kualitas, asumsi yang cukup rasional. Pada kenyatannya selama ini kulit saya baik-baik saja, toh dulu saya biasa mandi di kali.
Target penerimaan dari penjulan tiket untuk tahun 2008 adalah Rp1,5M. Dengan harga tiket rata-rata Rp5.500,00, berarti dalam setahun kolam renang ini harus menjaring 270 ribu pengunjung atau 5 ribu perminggu. Angka yang tidak realistis. Jika ada penghasilan tambahan seperti penjualan tiket ketika ada pertandingan renang antarkabupaten/antarkecamatan, ada yang sewa khusus untuk pertandingan polo air, atau ada yang berniat untuk merayakan resepsi pernikahan dengan menggelar pesta kolam renang mungkin dapa membantu. Karena saya tidak berniat untuk jadi kepala daerah, saya kira saya tidak perlu berfikir sejauh itu lagi pula para pembaca yang budiman sudah mulai bosan dengan blog ini.
Saya datang pagi-pagi berharap cuaca belum terlalu panas dan pengunjung belum terlalu banyak. Antrian tiket tidak behitu panjang hanya ada dua motor di depan saya. Saya merogoh saku celana, ternyata ada uang Rp26.000,00, cukup untuk beli tiket dan sarapan, masih ada sisa Rp21.900,00. Segera melaju ke tempat parkir.
Tempat parkir yang tersedia dibuat dengan desain minimalis, maksudnya minim sarana. Alih-alih secure parking, yang ada adalah dua orang penjaga berpakaian sipil membawa karcis parkir dan baki plastik untuk meletakkan uang hasil penjualan karcis parkir. Rp1.000,00 adalah tarif pasaran tidak resmi untuk sekali parkir. Setelah menyerahkan selembar uang ribuan, petugas parkir menyerahkan selembar karcis yang ditulisi nomor plat motor saya. Sudah mirip secure parking lah.
Cari tempat parkir yang terdekat dengan pintu masuk untuk menghemat waktu keluar masuk tempat parkir. Ruang kosong terdekat terlihat, dengan gerakan hati-hati saya melajukan kendaraan secukupnya. Sebenarnya tempat itu hanya satu meter dari pintu masuk. Dengan satu gerakan saya menyelipkan Belalang Tempur (disingkat BT, biar lebih keren jadi BT-X), partner saya dalam hal kebut-kebutan, di antara dua motor pengunjung. “Krak,” bunyi yang sangat ganjil ketika mengerem. Rupanya ujung stang sebelah kanan mengenai spion motor sebelah, mematahkannya sampai patah.
“Kayaknya memang sebelumnya sudah rusak tuh,” keluar begitu saja dari mulut saya untuk meredam situasi, sangat politis.
Celakanya ada dua orang saksi yaitu petugas parkir. Kalo tidak ada yang melihat mungkin saya langsung kabur dan meletakkan BT-X di tempat lain, sungguh pikiran seorang oportunis. Untuk menunjukan itikad baik saya berpesan kepada petugas parkir tadi kalo yang punya motor tanya bilang saja pelakunya pemilik Jupiter Z ini sambil menunjuk BT-X dan pergi menuju kolam renang.
Harga spion saya Rp25.000,00 sepasang dan masih bagus, bolehlah buat ganti yang saya rusakkan tadi. Kalopun diminta uang, saya masih punya Rp20.900,00, cukup untuk mengganti spion bulukan yang tersenggol dikit saja langsung patah. Kesimpulannya, quick ratio saya masih tinggi.
Selama berenang saya mengira-ngira apa yang terjadi apabila pemilik motor yang spionnya saya patahkan tadi selesai berenang dan ketika kembali menemukan spion motornya sudah dalam keadaan yang mengenaskan dan inilah kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
a. Dia akan melakukan pembalasan setimpal dengan mematahkan spion punya saya;
b. ia akan menunggu saya keluar untuk kemudian adu argumentasi dan akhirnya minta ganti rugi;
c. ia akan mengucap kalimat istirja dan mendoakan saya dengan doa yang baik;
d. ia akan mencatat plat nomor saya dan merencanakan untuk melancarkan tenung malam Jumat berikutnya;
e. ia dengan berbesar hati menganggap kejadian ini adalah kecelakaan normal yang dapat kapanpun terjadi kapanpun-di manapun pada zaman edan ini dan melupakannya dengan sabar;
f. ia segera menanyakan ciri-ciri saya kepada penjaga parkir dan mencari saya di kolam renang untuk kemudian diajak duel sebagai berikut:
(1) duel tangan kosong, so sexy,
(2) lomba berenang, saya pasti kalah,
(3) adu panco, mending saya kasih uang saja,
(4) adu tembak, dilarang,
(5) duel kartu kegelapan, susunan dek saya masih kacau,
(6) duel pokemon, sudah lama tidak dilatih, skill masih rendah,
(7) dan duel-duel yang lain,
kemudian saya dipermalukan di depan seluruh pengunjung kolam renang, segenap penjaga kolam renang, dan gadis-gadis abg berpakaian ketat-basah. Langit terlihat sudah mulai gelap siap untuk melancarkan hujan batu atau petir untuk menyiksa blogger-blogger yang terlalu banyak mengkhayal.
Semua kemungkinan harus diantisipasi jadi saya mulai berenang dan menyisakan sedikit energi untuk duel nanti.
Sampai saya selesai berenang, tidak ada penggilan apapun dari bagian informasi karena memang tidak ada fasilitas pelayanan informasi seperti ketika ada anak kecil yang tersesat di tengah kolam dan bingung mencari ibunya cukuplah diumumkan ibu si anu mohon ke bagian informasi bla bla bla.
“Panggilan-panggilan kepada pemilik kendaraan bermotor roda dua nomor sekian sekian harap menuju ke tempat parkir karena puing-puing motornya menghalangi kendaraan lain yang akan parkir,” begitulah kira-kira panggilan yang ditujukan kepadaku.
BT-X terlihat baik-baik saja. Petugas parkirpun tidak berkomentar apa-apa. Barang bukti sebuah motor yang spion kirinya patah sudah tidak tampak lagi. Sayapun enggan bertanya pada penjaga parkir. Dengan gerakan seadanya saya meninggalkan komplek kolam renang dan menuju ke tempat sarapan terdekat.
Setelah sarapan saya menuju tempat cuci motor, sudah lama BT-X tidak mandi, paling cuma cuci muka sama sikat gigi. Daki-daki di sela-sela mesin sudah sangat tebal. Di tempat cucian itulah baru saya sadar ternyata logo Yamaha berupa lingkaran selebar sebuah uang logam Rp500,00 dan senilai pasar seratus kali uang logam Rp500,00 di bagian depan sudah raib.
Pantesan dari tadi BT-X diam saja. Logo itu sebenarnya adalah potongan All Spark yang menghidupkan planet Cybertron dan melahirkan para Autobot dan Decepticon. Potongan kecil, yang diukir logo sebuah perusahaan sepeda motor untuk menyamarkannya, yang menghidupkan sebuah sepeda motor biasa menjadi robot biomekanik super canggih yang sangat perkasa. DAlam keadaan genting BT-X dapat bertransformasi menjadi sebuah robot pintar dan mulai membantuku membuat laporan atau menjadi lawan main game.
Semua kemampuan super itu sudah hilang, tidak ada lagi serangan Mega Thunder Beam sebagai senjata pamungkas ketika monster lawan sudah lemah – sebuah ending yang fantastis, tidak ada lagi kecepatan hipersonik ketika berangkat kantor. Lebih parah lagi, tanpa identitas itu, BT-X tidaklah beda dengan motor-motor cina yang memiliki casing yang sangat mirip. Sedihnya. Kemudian tiba-tiba debu radio aktif jatuh dari langit dan membinasakan seluruh blogger pengkhayal di muka bumi.
Padahal saya sudah bersyukur menemukan sosok yang dengan sabarnya melakukan opsi c atau e di atas. Ternyata saya salah, saya telah dikhianati oleh sinetro-sinetron religius dengan tokoh utama yang begitu sempurna. Memang susah menemukan orang dewasa di tengah zaman yang hanya berisi politik dan bisnis ini.
===
-Expanded Material-
Perlakuan akuntansi untuk kejadian ini:
#1 Akui kerugian dan hapuskan aset yang hilang.
Beban ganti rugi Rp20.000,00 (sebesar harga spion yang dirusakkan)
Protest Fee Rp30.000,00
Suku cadang kendaraan Rp50.000,00
#2 Laporkan dalam Laporan Rugi-Laba, letakkan pada bagian Extraordinary Item.